Gpd6GUW5GfWoBSY0TpO9TUO8BY==
  • mountainguide.indonesia@gmail.com
  • 0818 885 093 - 0822 2686 8601

Mengenal SKKNI Pemanduan Wisata Gunung Nomor 74 Tahun 2024: Dasar Kompetensi Profesi Pemandu Gunung Indonesia

 


BAB I PENDAHULUAN

B. Pengertian

Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata alam dan pendakian gunung, kebutuhan akan pemandu wisata gunung yang profesional, kompeten, dan berstandar nasional menjadi semakin penting. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Pemanduan Wisata Gunung Nomor 74 Tahun 2024 sebagai acuan dalam pengembangan kompetensi profesi pemandu wisata gunung.

SKKNI ini tidak hanya menjadi pedoman dalam pelatihan dan sertifikasi profesi, tetapi juga menjadi standar yang menjamin kualitas layanan, keselamatan wisatawan, serta keberlanjutan lingkungan dan budaya yang menjadi bagian dari aktivitas wisata gunung.

Siapa Itu Pemandu Wisata Gunung?

Menurut SKKNI Nomor 74 Tahun 2024, Pemandu Wisata Gunung adalah orang yang memiliki kompetensi teknis dan manajerial dalam memimpin dan memandu perjalanan wisata gunung teknikal maupun non-teknikal, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Seorang pemandu wisata gunung memiliki tanggung jawab yang jauh lebih luas daripada sekadar menunjukkan jalur pendakian. Mereka bertugas menjaga keamanan, keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan wisatawan selama perjalanan berlangsung. Selain itu, pemandu juga berperan dalam memberikan edukasi, menambah pengalaman dan wawasan wisatawan, serta memastikan kelestarian alam dan budaya yang dilalui tetap terjaga.

Dalam praktiknya, seorang pemandu wisata gunung harus mampu menjadi pemimpin perjalanan, pengelola risiko, fasilitator kegiatan, komunikator yang baik, sekaligus duta konservasi lingkungan.

Pentingnya Mutu Layanan Prima

Salah satu prinsip utama dalam SKKNI adalah penerapan Mutu Layanan Prima.

Mutu layanan prima merupakan tindakan atau upaya yang dilakukan untuk memberikan pelayanan maksimal berdasarkan standar dan prosedur layanan yang telah ditetapkan, sehingga pelanggan atau wisatawan memperoleh kepuasan atas pelayanan yang diberikan.

Dalam dunia pemanduan wisata gunung, layanan prima dapat diwujudkan melalui:

  • Penyampaian informasi yang jelas dan akurat.
  • Sikap profesional dan ramah terhadap peserta.
  • Respons cepat terhadap kebutuhan wisatawan.
  • Pengelolaan perjalanan yang aman dan nyaman.
  • Kemampuan menangani keadaan darurat secara tepat.

Pelayanan yang berkualitas akan meningkatkan kepercayaan wisatawan sekaligus menciptakan pengalaman pendakian yang berkesan dan aman.

Pariwisata Berkelanjutan dalam Wisata Gunung

SKKNI juga menekankan pentingnya penerapan konsep Pariwisata Berkelanjutan.

Pariwisata berkelanjutan adalah konsep pariwisata yang memperhitungkan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi dari kegiatan wisata serta berupaya meminimalkan dampak negatif melalui berbagai penyesuaian yang relevan.

Bagi pemandu wisata gunung, konsep ini diwujudkan melalui berbagai tindakan seperti:

  • Mengedukasi wisatawan tentang etika pendakian.
  • Mengurangi produksi sampah selama perjalanan.
  • Menghormati budaya masyarakat lokal.
  • Menjaga kelestarian flora dan fauna.
  • Mendorong praktik wisata yang bertanggung jawab.

Dengan demikian, aktivitas wisata gunung tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya alam dan budaya bagi generasi mendatang.

Memahami Berbagai Jenis Aktivitas Wisata Gunung

Dalam SKKNI Nomor 74 Tahun 2024, terdapat beberapa jenis aktivitas wisata gunung yang perlu dipahami oleh seorang pemandu.

1. Hiking

Hiking adalah perjalanan berjalan kaki dalam waktu singkat, tidak lebih dari satu hari, tanpa memerlukan peralatan pendakian khusus.

Kegiatan ini dilakukan pada jalur yang telah tersedia dan memiliki petunjuk arah yang jelas (trail). Medan hiking umumnya bervariasi dari landai hingga curam dengan jarak tempuh kurang dari 50 kilometer.

Hiking sangat cocok bagi wisatawan pemula yang ingin menikmati suasana alam tanpa harus melakukan perjalanan panjang atau bermalam.

2. Trekking

Berbeda dengan hiking, trekking merupakan perjalanan berjalan kaki yang berlangsung lebih dari satu hari dan biasanya melibatkan kegiatan bermalam.

Trekking dapat memerlukan peralatan sederhana seperti trekking pole dan dilakukan pada jalur alami dengan petunjuk arah yang terbatas (track). Tingkat kesulitan jalur dapat bervariasi dari medan landai hingga terjal.

Aktivitas ini membutuhkan kemampuan manajemen perjalanan dan ketahanan fisik yang lebih tinggi.

3. Jungle Trekking

Jungle Trekking adalah perjalanan berjalan kaki di kawasan pegunungan yang menelusuri hutan, terutama hutan hujan tropis yang memiliki vegetasi rapat dan keanekaragaman hayati yang tinggi.

Jenis perjalanan ini memerlukan kemampuan navigasi, pengetahuan lingkungan, dan keterampilan bertahan di alam karena kondisi medan yang lebih kompleks dibandingkan jalur pendakian biasa.

4. Perjalanan Wisata Gunung Multi Destinasi

Jenis perjalanan ini melibatkan kunjungan ke beberapa destinasi wisata gunung dalam satu rangkaian perjalanan yang berkesinambungan.

Wisatawan dapat menikmati berbagai karakteristik gunung, budaya lokal, dan pengalaman petualangan dalam satu program perjalanan yang terintegrasi.

5. High Altitude Trekking

High Altitude Trekking adalah perjalanan berhari-hari pada kawasan dengan ketinggian antara 2.500 hingga 8.000 meter di atas permukaan laut.

Pada ketinggian tersebut, kadar oksigen semakin menipis sehingga tubuh manusia mengalami perubahan fisiologis tertentu. Oleh karena itu, pemandu harus memahami teknik aklimatisasi, pencegahan penyakit ketinggian, serta manajemen risiko kesehatan selama perjalanan.

6. Pendakian Alpin (Alpine Climbing)

Pendakian Alpin merupakan aktivitas pendakian dan pemanjatan di gunung-gunung tinggi yang memiliki permukaan batu, salju, atau es dengan tingkat kemiringan yang cukup curam.

Aktivitas ini menggunakan teknik pemanjatan khusus serta membutuhkan tali dan peralatan teknis sebagai sistem pengaman maupun alat bantu mencapai ketinggian tertentu.

Pendakian alpin termasuk kategori kegiatan teknikal dengan tingkat risiko yang tinggi dan memerlukan kompetensi khusus.

7. Perjalanan Medan Salju (Snow and Glacier Traveling)

Aktivitas ini dilakukan di atas permukaan salju maupun sungai es (glacier) yang terbentuk dari akumulasi dan pemadatan salju di kawasan pegunungan.

Karena kondisi medan yang terus berubah dan memiliki berbagai potensi bahaya seperti celah es (crevasse), perjalanan ini membutuhkan peralatan khusus serta teknik keselamatan yang memadai.

Kemampuan penggunaan crampon, ice axe, tali pengaman, serta teknik perjalanan di medan bersalju menjadi kompetensi penting bagi pemandu yang menangani kegiatan ini.

Penutup

SKKNI Pemanduan Wisata Gunung Nomor 74 Tahun 2024 merupakan tonggak penting dalam pengembangan profesi pemandu wisata gunung di Indonesia. Melalui definisi dan pengertian yang jelas mengenai profesi, standar layanan, konsep pariwisata berkelanjutan, serta berbagai jenis aktivitas wisata gunung, SKKNI memberikan landasan yang kuat bagi peningkatan profesionalisme dan kualitas layanan pemanduan.

Dengan adanya standar kompetensi nasional ini, diharapkan setiap pemandu wisata gunung Indonesia mampu memberikan pelayanan yang aman, profesional, berkualitas, serta berorientasi pada keselamatan wisatawan dan kelestarian alam. Pada akhirnya, keberadaan pemandu yang kompeten akan menjadi salah satu faktor utama dalam mewujudkan wisata gunung Indonesia yang berkelas dunia dan berkelanjutan.

0 Komentar

Popup Image